Minggu, 24 April 2016

LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI: IDENTIFIKASI TELUR CACING DALAM FESES 1

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM PARASITOLOGI
IDENTIFIKASI TELUR CACING
DALAM FESES 1




DisusunOleh:
Lusia Neva Deana
115017

AKADEMI ANALIS KESEHATAN THERESIANA
SEMARANG
2016




1.      Hari dan Tanggal                    : Selsasa, 15 Maret 2016
2.      Tujuan                                     :
a.       Mahasiswa mampu mengidentifikasi telur cacing pada sample konsentrat tinja
b.      Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan telur cacing
c.       Mahasiswa mampu melakukan secara sistem benteng
d.      Mahasiswa mampu memahami kekurangan serta kelebihan metode yang digunakan saat pemeriksaan
3.      Metode                                    : Metode Natif
4.      Sample                                     : Konsentrat tinja no. A
5.      Dasar Teori                              :
Cacing merupakan salah satu parasut yang menghigapi manusia. Penyakut infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi prevalensinya. Hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakitnya infeksi yang disebabkan cacing itu dapat dikarenakan di daerah tropis khususnya Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban yang cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik. (Kadarsan, 2005)
Pemeriksaan feces dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feces ini juga dimaksudkan untuk mendiagnosa tingkat infektif cacing parasit usus pada orang yang diperiksa fecesnya. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnosis merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit kecacingan, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada klinik kurang dapat dipastikan. (Gandahusada, 2000)
Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa caicng. Cacing umumnya tidak menyebabkan penyakit berat sehingga sering kali diabaikan walaupun sesungguhnya memberikan gangguan kesehatan. Tetapi, dalam keadaan infeksi berat atau keadaan yang luar biasa, kecacingan cenderung memberikan analisa keliru ke arah penyakit lain dan tidak jarang dapat berakibat fatal. (Margono, 2008)
Definisi infeksi kecacingan menurut WHO (2011) adalah sebagai infestasi satu atau lebih cacing parasit usus yang terdiri dari golongan nematoda usus. Diantara nematoda usus ada sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah atau biasa disebut dengan cacing jenis STH (Margono l.,2006)
Kecacingan ini umunya ditemukan di daerah tropis dan subtropis dan beriklim basah dimana hygiene dan sanitasi buruk. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi paling umum menyerang kelompok masyarakat ekonomi lemah dan ditemukan pada berbagai golongan usus. (WHO, 2011)
Nematoda adalah cacing yang tidak bersegmen, bilateral simetris, mempunyai saluran cerna yang berfungsi penuh, biasanya berbentuk silindris serta panjangnya bervariasi dan beberapa milimeter hingga lebih dari satu meter. Nematoda usus biasanya matang dalam usus halus, dimana sebagian besar cacing dewasa melekat dengan kait oral atau lempeng pemotong. Cacimg ini menyebabkan penyakit karena dapat menyebabkan kehilangan darah, iritasi dan alergi. (Margono, 2008)
6.      Alat dan Bahan                       :
Alat
·         Mikroskop
·         Obyek glass
·         Deg glass
·         Bengkok plastik
·         Pipet tetes
·         Kapas
·         Tissue
·         Potongan sedotan kecil
Bahan
·         Konsentrat tinja no. B
·         Lysol
·         Pewarna Eosin 2%
Reagensia
·         Alhokol 70%
7.      Prosedur                      :
-          Disiapkan mikroskop, obyek glass, deg glass
-          Apabila mikroskop sudah siap digunakan, maka dilanjutkan pembersihan objek glass dan deg glass dengan kapas alkohol
-          Diteteskan 1 tetes sample konsentrat tinja no. B ke sebelah kiri dan kanan objek glass. Kemudian sebelah kiri atau kanan diberikan pewarna dan dihomogenkan menggunakan potongan sedotan kecil dan diberi deg glass
-          Diletakkan di meja preparat mikroskop
-          Diamati dari 10x perbesaran dilanjutkan 40x perbesaran jika pada 10x perbesaran sudah ditemukan telur cacing
-          Dituliskan pada buku jurnal jika sudah benar menemukan
-          Apabila sudah selesai pengamatan, mikroskop dimatikan dan dibuat tidak posisi kerja. Obyek glass yang digunakan untuk pemeriksaan dimasukkan ke dalam bengkok plastik berisi lysol.
8.      Pengamatan                             :
Pada sample konsentrat tinja no. A, ditemukan:
·         Telur cacing tambang
·  Telur cacing Ascaris lumbricoides fertil corticated
·         Telur cacing Ascaris lumbricoides infertil decorticated
·         Larva rhabditiform cacing tambang
9.      Pembahasan                            :
Konsentrat tinja no. A ditemukan telur cacing yang dapat ditularkan melalui tanah dan dapat menyebabkan berbagai penyakit. Ascaris lumbricoides dapat menyebabkan dapat  menyebabkan penyakit Ascariasis, cacing tambang dapat menyebabkan penyakit yang bermacam-macam tergantung spesies apa yang menginfeksi.
Konsentrat tinja no. A ditemukan telur cacingtambang yang kira-kira berukuran 55x35 mikron, bentuknya bulat oval, dinding telur 1 lapis, transparan dari bahan hialin, sel telur yang belum berkembang tampak seperti kelopak bunga. Telur dihasilkan oleh cacing betina dan keluar melalui feces.
Konsentrat tinja no. A ditemukan juga larva rhabditiform cacing tambang, esophagus 1/3 panjang badan dengan mulut sempit tetapi panjang dan membuka. Larva ini lebih besar (gendut) dari larva filariform. Biasanya larva ini barusan pecah dari telur dan dapat menginfeksi manusia karena larva ini pada stadium makan.
Konsentrat tinja no. A ditemukan telur Ascaris lumbricoides fertil corticated, bentuk oval, ukuran kurang lebih 45-75 mikron dan 35-50 mikron serta terdapat dinding 4 lapis, terdiri dari albuminoid, hialin dan lapisan lipid. Albuminoid tampak kasar.
Konsentrat tinja no. A ditemukan telur cacing Ascaris lumbricoides infertil decorticated, seperti telur fertil tetapi lebih lonjong, ukuran lebih besar dan albuminoidnya tampak halus
Pada saat praktik kemarin, penulis mengira ada telur cacing Oxyuris vermicularis dan saat ditanyakan pada pembimbing identifikasi penulis salah. Itu bukan telur cacing Oxyuris vermicularis. Oxyuris vermicularis sering ditemukan pada pemeriksaan yang samplenya diambil dari perianal swab.
Metode yang digunakan pada pemeriksaan kali ini adalah metode natif atau langsung. Yang dimana metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau pewarna eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya.
Dasar teori metode natif ini ialah eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang berwarna kekuning-kuningan dan untuk lebih kelas memisahkan feces dengan kotoran yang ada. Kekurangannya adalah dilakukan hanya untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit untuk dideteksi. Kelebihannya adalah mudah dan cepat dalam pemeriksaan telur cacing semua spesies, biaya yang diperlukan sedikit, peralatan yang digunakan juga sedikit.


10.  Kesimpulan                             :
Jadi, pada pemeriksaan telur cacing pada konsentrat tinja no. A menggunakan metode natif atau langsung ditemukan:
1)      Telur cacing tambang
2) Telur cacing Ascaris lumbricoides fertil corticated dan infertil decorticated
3)     Larva rhabditiform cacing tambang
11.  Daftar Pustaka                                    :
Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer. 1996. Buku Ajar Penyakit dalam jilid 1. Jakarta: FKUI.
Gandahusada, S.W Pribadi dan D.I. Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: FKUI
Kadarsan, S. 2005. Binatang Parasit. Lembaga Biologi Nasional LIPI: Bogor.
Margono, S. 2008. Nematoda Usus Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi 4. Jakarta: FKUI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar