LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
PARASITOLOGI
IDENTIFIKASI
TELUR CACING
DALAM
FESES 1
DisusunOleh:
Lusia
Neva Deana
115017
AKADEMI ANALIS KESEHATAN THERESIANA
SEMARANG
2016
1.
Hari
dan Tanggal : Selsasa,
15 Maret 2016
2.
Tujuan :
a.
Mahasiswa
mampu mengidentifikasi telur cacing pada sample konsentrat tinja
b.
Mahasiswa
mampu mengetahui cara pemeriksaan telur cacing
c.
Mahasiswa
mampu melakukan secara sistem benteng
d.
Mahasiswa
mampu memahami kekurangan serta kelebihan metode yang digunakan saat
pemeriksaan
3.
Metode : Metode
Natif
4.
Sample :
Konsentrat tinja no. A
5.
Dasar
Teori :
Cacing
merupakan salah satu parasut yang menghigapi manusia. Penyakut infeksi yang
disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi prevalensinya. Hal ini
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakitnya
infeksi yang disebabkan cacing itu dapat dikarenakan di daerah tropis khususnya
Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban yang
cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik. (Kadarsan, 2005)
Pemeriksaan
feces dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang
infektif. Pemeriksaan feces ini juga dimaksudkan untuk mendiagnosa tingkat infektif
cacing parasit usus pada orang yang diperiksa fecesnya. Prinsip dasar untuk
diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik
diagnosis merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya
infeksi penyakit kecacingan, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan
mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit
berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu
pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya
berdasarkan pada klinik kurang dapat dipastikan. (Gandahusada, 2000)
Kecacingan
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa caicng. Cacing
umumnya tidak menyebabkan penyakit berat sehingga sering kali diabaikan
walaupun sesungguhnya memberikan gangguan kesehatan. Tetapi, dalam keadaan
infeksi berat atau keadaan yang luar biasa, kecacingan cenderung memberikan
analisa keliru ke arah penyakit lain dan tidak jarang dapat berakibat fatal.
(Margono, 2008)
Definisi
infeksi kecacingan menurut WHO (2011) adalah sebagai infestasi satu atau lebih
cacing parasit usus yang terdiri dari golongan nematoda usus. Diantara nematoda
usus ada sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah atau biasa disebut
dengan cacing jenis STH (Margono l.,2006)
Kecacingan ini umunya ditemukan di daerah tropis dan
subtropis dan beriklim basah dimana hygiene dan sanitasi buruk. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi paling umum
menyerang kelompok masyarakat ekonomi lemah dan ditemukan pada berbagai
golongan usus. (WHO, 2011)
Nematoda
adalah cacing yang tidak bersegmen, bilateral simetris, mempunyai saluran cerna
yang berfungsi penuh, biasanya berbentuk silindris serta panjangnya bervariasi
dan beberapa milimeter hingga lebih dari satu meter. Nematoda usus biasanya
matang dalam usus halus, dimana sebagian besar cacing dewasa melekat dengan
kait oral atau lempeng pemotong. Cacimg ini menyebabkan penyakit karena dapat
menyebabkan kehilangan darah, iritasi dan alergi. (Margono, 2008)
6.
Alat
dan Bahan :
Alat
·
Mikroskop
·
Obyek
glass
·
Deg
glass
·
Bengkok
plastik
·
Pipet
tetes
·
Kapas
·
Tissue
·
Potongan
sedotan kecil
Bahan
·
Konsentrat
tinja no. B
·
Lysol
·
Pewarna
Eosin 2%
Reagensia
·
Alhokol
70%
7.
Prosedur :
-
Disiapkan
mikroskop, obyek glass, deg glass
-
Apabila
mikroskop sudah siap digunakan, maka dilanjutkan pembersihan objek glass dan
deg glass dengan kapas alkohol
-
Diteteskan
1 tetes sample konsentrat tinja no. B ke sebelah kiri dan kanan objek glass.
Kemudian sebelah kiri atau kanan diberikan pewarna dan dihomogenkan menggunakan
potongan sedotan kecil dan diberi deg glass
-
Diletakkan
di meja preparat mikroskop
-
Diamati
dari 10x perbesaran dilanjutkan 40x perbesaran jika pada 10x perbesaran sudah
ditemukan telur cacing
-
Dituliskan
pada buku jurnal jika sudah benar menemukan
-
Apabila
sudah selesai pengamatan, mikroskop dimatikan dan dibuat tidak posisi kerja.
Obyek glass yang digunakan untuk pemeriksaan dimasukkan ke dalam bengkok
plastik berisi lysol.
8.
Pengamatan :
Pada sample konsentrat tinja no. A, ditemukan:
·
Telur
cacing tambang
· Telur
cacing Ascaris lumbricoides fertil
corticated
·
Telur
cacing Ascaris lumbricoides infertil
decorticated
·
Larva
rhabditiform cacing tambang
9.
Pembahasan :
Konsentrat
tinja no. A ditemukan telur cacing yang dapat ditularkan melalui tanah dan
dapat menyebabkan berbagai penyakit. Ascaris
lumbricoides dapat menyebabkan dapat
menyebabkan penyakit Ascariasis,
cacing tambang dapat menyebabkan penyakit yang bermacam-macam tergantung
spesies apa yang menginfeksi.
Konsentrat
tinja no. A ditemukan telur cacingtambang yang kira-kira berukuran 55x35 mikron, bentuknya bulat oval, dinding
telur 1 lapis, transparan dari bahan hialin, sel telur yang belum berkembang
tampak seperti kelopak bunga. Telur dihasilkan oleh cacing betina dan keluar
melalui feces.
Konsentrat
tinja no. A ditemukan juga larva rhabditiform
cacing tambang, esophagus 1/3 panjang badan dengan mulut sempit tetapi panjang
dan membuka. Larva ini lebih besar (gendut) dari larva filariform. Biasanya larva ini barusan pecah dari telur dan dapat
menginfeksi manusia karena larva ini pada stadium makan.
Konsentrat
tinja no. A ditemukan telur Ascaris
lumbricoides fertil corticated, bentuk oval, ukuran kurang lebih 45-75 mikron dan 35-50 mikron serta terdapat dinding 4 lapis, terdiri dari albuminoid,
hialin dan lapisan lipid. Albuminoid tampak kasar.
Konsentrat
tinja no. A ditemukan telur cacing Ascaris
lumbricoides infertil decorticated, seperti telur fertil tetapi lebih
lonjong, ukuran lebih besar dan albuminoidnya tampak halus
Pada saat
praktik kemarin, penulis mengira ada telur cacing Oxyuris vermicularis dan saat ditanyakan pada pembimbing
identifikasi penulis salah. Itu bukan telur cacing Oxyuris vermicularis. Oxyuris
vermicularis sering ditemukan pada pemeriksaan yang samplenya diambil dari perianal swab.
Metode yang
digunakan pada pemeriksaan kali ini adalah metode natif atau langsung. Yang
dimana metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk
infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya.
Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau pewarna
eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan
kotoran disekitarnya.
Dasar teori
metode natif ini ialah eosin memberikan latar belakang
merah terhadap telur yang berwarna kekuning-kuningan dan untuk lebih kelas
memisahkan feces dengan kotoran yang ada. Kekurangannya adalah dilakukan hanya
untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit untuk dideteksi. Kelebihannya adalah
mudah dan cepat dalam pemeriksaan telur cacing semua spesies, biaya yang
diperlukan sedikit, peralatan yang digunakan juga sedikit.
10. Kesimpulan :
Jadi, pada
pemeriksaan telur cacing pada konsentrat tinja no. A menggunakan metode natif
atau langsung ditemukan:
1)
Telur
cacing tambang
2) Telur
cacing Ascaris lumbricoides fertil
corticated dan infertil decorticated
3) Larva
rhabditiform cacing tambang
11. Daftar Pustaka :
Prof. Dr. H.M.
Sjaifoellah Noer. 1996. Buku Ajar
Penyakit dalam jilid 1. Jakarta: FKUI.
Gandahusada,
S.W Pribadi dan D.I. Herry. 2000. Parasitologi
Kedokteran. Jakarta: FKUI
Kadarsan, S.
2005. Binatang Parasit. Lembaga
Biologi Nasional LIPI: Bogor.
Margono, S.
2008. Nematoda Usus Buku Ajar
Parasitologi Kedokteran. Edisi 4. Jakarta: FKUI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar